New Zealand  merupakan negara subtropis yang memiliki 4 musim. Namun, yang membuat negara ini nyaman adalah kondisi cuacanya tidak terlalu ekstrem. Misalnya saja, ketika musim panas berlangsung, rata-rata suhu disana adalah 25 samapi 30 derajat celcius. Untuk musim dingin sendiri, tidak pernah mencapai minus nol derajat. Keunikan cuaca di New Zealand kadang sukar diprediksi, jika hari ini matahari bersinar cerah, besok bisa saja terjadi hujan lebat. Juga angin yang berhembus lumayan kencang sering terjadi di negara tersebut. Di wilayah dimana  Ghifari tinggal, di North Island jarang sekali terlihat salju. Jika kamu ingin melihat salju saat musim dingin, South Island memungkinkan kamu menikmati salju yang melimpah ruah!

Orang-orang di New Zealand

Ada 2 suku penduduk asli di New Zealand. Jika kamu mengenal suku Aborigin di Australia, di New Zealand terdapat suku Kiwi dan Maori sebagai penduduk asli pulau tersebut. Jika dibandingkan dengan negara-negara di Eropa maupun Australia sendiri, karakter masyarakat di New Zealand bisa dibilang lebih ramah dan bersahabat. New Zealand banyak dihuni orang-orang berusia tua dibanding anak-anak muda. Selain itu, masyarakatnya juga tidak berlaku diskriminatif kepada suatu etnis atau kaum tertentu.

New Zealand banyak dikenal sebagai salah satu negara penghasil komoditi domba terbesar. Sebenarnya, tidak hanya domba namun juga sektor agraris dan peternakan lainnyapun menjadi komoditi utama dari negara ini.

New Zealand terkenal dengan kepadatan penduduk yang rendah. Wellington sendiri sebagai sebuah ibukota, penduduknya hanya berjumlah 400 ribu jiwa. Jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan Yogyakarta, apalagi Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia. Bagi sebagian orang mungkin ini menjadi kekurangan negara ini. Karena kita terbiasa hidup di wilayah yang padat dan interaksi antar manusianya tinggi, tinggal di New Zealand yang notabene akan lebih sepi mungkin akan membuat kamu agak merasa bosan. Kecuali untuk beberapa dari kamu yang suka dengan suasana yang sunyi dan tenteram.

Biaya hidup dan akomodasi selama berada di New Zealand

Salah satu hal yang patut kamu jadikan pertimbangan adalah biaya hidup di New Zealand yang ternyata  cukup tinggi! Bahkan, konon lebih tinggi dari beberapa negara di Eropa sekalipun. Namun bisa juga dikatakan biaya hidup di New Zealand masih termasuk lebih rendah dibandingkan beberapa negara di Australia lainnya. Kebutuhan yang berhubungan dengan jasa seperti transportasi dan layanan-layanan lain seperti bengkel dan sebagainya, cenderung lebih mahal dibandingkan kebutuhan yang sifatnya barang. Kamu juga harus pandai-pandai mencari akomodasi yang murah dan layak untuk ditinggali. Rata-rata tarif sewa tempat di New Zealand sangatlah mahal. Apalagi jika kamu berniat membawa serta keluarga. Ditambah lagi peraturan pemerintah yang diberlakukan mengenai akomodasi menurut Ghifar boleh dibilang agak ribet. Perbandingan biaya akomodasi sendiri menurut pengalaman Ghifar adalah sekitar 2/3 dari kebutuhan bulananmu. Tenang, jangan khawatir bagi kamu yang memperoleh beasiswa, umumnya segala bentuk kebutuhan sudah disesuaikan dengan standar biaya hidup di New Zealand. Jadi pasti cukup untuk hidup sehari-hari asalkan kamu pandai berhemat. Akomodasi, research fee atau dana penelitian juga sudah termasuk dalam fasilitas yang diberikan beasiswa tersebut.

Untuk skema akomodasi sendiri, kebetulan Ghifar disediakan sebuah rumah besar dengan banyak kamar sehingga ia bisa tinggal bersama teman-teman yang juga berasal dari Indonesia. Ada lagi jenis akomodasi lainnya, semacam kos-kosan dimana kamu mungkin akan tinggal bersama orang yang belum dikenal. Kamu juga bisa tinggal di asrama yang disediakan oleh kampus. Menurut Ghifar, kadang harga sewa kamar di asrama kampus lebih mahal dibandingkan jika menyewa rumah di luar lingkup kampus. Karena jumlah kamarnya terbatas, untuk menyewa asrama sendiri kamu perlu mendaftarkan diri, dan nantinya pihak kampus yang menentukan apakah kamu bisa mendapatkan kamar atau tidak.

× How can I help you?